One Tree Can Start a Forest


Tampilkan postingan dengan label DONGENG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DONGENG. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Februari 2011

DONGENG ANANTHATOYS : BEAUTY AND THE BEAST

myspace layouts images
Seorang duda kaya raya memliki tiga orang anak perempuan. Dua anak tertua setiap hari selalu bersenang-senang, berkeliling kota sambil mengenakan busana Prada, menikmati koktail di restoran Four Seasons, dan hanya mau digoda oleh pria-pria bangsawan. Putri yang bungsu bukan hanya lebih cantik dan lebih ramah, tetapi juga lebih serius dan pintar, dengankepekaan yang tinggi pada seni sastra. Dia sangat cantik dan menyenangkan sehingga setiap orang memanggilnya "Beauty".

Pada suatu saat, duda tersebut kehilangan semua harta yang dia miliki. Bersama ketiga anaknya dia pindah ke sebiah rumah reyot di pedesaan. Di situ tidak ada yang bisa dilakukan selain memandang keluar jendela sambil mengenang masa-masa menyenangkan yang pernah mereka alami. Beauty selalu bangun pagi untuk menolong ayahnya. Pekerjaan di ladang membentuk ototnya dan kulitnya menjadi coklat berkilat. Setahun kemudian, sang ayah menerima kabar bahwa kapalnya telah tiba. Dia berangkat menuju dermaga diiringi permintaan kedua putri tertuanya yang tamak untuk membawa pulang barang-barang mahal-----seperti pakaianmerek Chanel, tas Gucci, coklat Godiva. Beauty hanya meminta setangkai bunga mawar.

Ternyata barang-barang yang dimuat di kapal tersebut bermasalah. (Biaya untuk mengurus masalah itu menguras seluruh pendapatannya.) Dalam keadaan bangkrut, sang ayah bermaksud kembali pulang ke rumah, namun kemudiantersesat dalam badai salju. Sekonyong-konyong, dia melihat sebuah kastil yang mentereng di kejauhan.

Keadaan di dalam kastil itu seperti Martha Stewart dari abad Pertengahan-----tumpukan daging domba tersaji di atas piring-piring perak, sebuah tempat tidur berukuran sangat luas yang dibuat oleh orang-orang kerdil, celana berkuda yang cocok dengan ukuran yang dia pakai. Pada pagi harinya, bukannya salju yang dia lihat, melainkan sebuah taman yang sangat luas. Ya! Dia lalu memetik setangkai bunga mawar untuk Beauty.

Tiba-tiba, sesosok makhluk yang menyeramkan muncul di seberang taman, dengan menampakkan deretan giginya yang tajam. Rupanya taman itu merupakan satu-satunya harta berharga yang makhluk itu miliki dan cintai! Sang ayah memohon agar tidak dibunuh, sambil menjelaskan bahwa dia adalah orangtua tunggal. Makhluk menyeramkan itu mengampuninya, dengan syarat bahwa salah satu putrinya harus datang ke kastil tersebut.

Beauty pun datang ke tempat itu (setelah ayahnya menjelaskan dengan terperinci bagaimana dia hampir kehilangan nyawanya ketika akan mengambilkan bunga untuk Beauty). bukannya memangsa Beauty, makhluk menyeramkan itu malah mempersilahkannya tinggal di dalamkastil dan menyediakan kamar khusus lengkap dengan pakaian dan sebuah perpustakaan.

Lama kelamaan beauty merasa nyaman dengan suasana di dalam kastil. Dia mengakui (setelah dipaksa) bahwa secara fisik, makhluk buruk rupa itu memang menyeramkan.
Tetapi kala dia memikirkan kebaikannya, rupa buruk tersebut memudar. Andai saja makhluk itu tidak terus menerus memintanya untuk menikah dengannya (sebuah tawaran yang dengan terpaksa dia tolak).

Pada akhirnya, makhluk itu mengubah permintaannya. Dia hanya meminta Beauty untuk tetap menemaninya seumur hodup. Beauty berkata bahwa betapapun dia menyukai kehidupan di dalam kastil itu, dia tidak akan merasa bahagia jika harus hidup jauh dari ayahnya. Karena menganggap bahwa kebahagiaan Beauty jauh lebih penting dari apapun, makhluk tersebut mengijinkanya pergi.

Setelah kembali ke rumah ayahnya, Beauty sering melamun memikirkan si makhluk buruk rupa. Dia heran akan perasaannya sendiri yang merindukan makhluk itu. Ada apa ini? Beauty bukanlah jenis orang yang suka mengharapkan apa-apa yang tidak dimilikinya.
Setelah bermimpi bahwa makhluk buruk rupa itu sedang dalam keadaan sekarat, Beauty baru menyadari bahwa sebenarnya dia memang mencintaimakhluk itu, walaupun hanya sebatas teman. Dia bergegas kembali ke kastil tadi....

...dimana si makhluk buruk rupa memang tengah sekarat, dikarenakan rasa rindunya kepada Beauty. Beauty langsung menghambur ke dalam pelukannya, sambil mengucapkan janji bahwa dia bersedia menikah dengannya.

Sekejap itu juga, si makhluk buruk rupa menjelma menjadi seorang pangeran rupawan. Dan betapa lucunya! ternyata selama ini sang pangeran telah dikutuk, berubah wujud menjadi sesosok makhluk buruk rupa sampai ada seorang gadis cantik yang jatuh cinta kepadanya hanya karena kebaikan dan kepribadiannya.

Mereka kemudian menikah dan hidup berbahagia selamanya, dengan tetap berwajah rupawan.
READ MORE >>

Rabu, 09 Februari 2011

CINDELARAS

cool myspace layouts
Raden Putra adalah raja Kerajaan Jenggala. Ia didampingi seorang permaisuri yang baik hati dan seorang selir yang cantik jelita. Tetapi, selir Raja Raden Putra memiliki sifat iri dan dengki terhadap sang permaisuri. Ia merencanakan suatu yang buruk kepada permaisuri. "Seharusnya, akulah yang menjadi permaisuri. Aku harus mencari akal untuk menyingkirkan permaisuri," pikirnya.

Selir baginda, berkomplot dengan seorang tabib istana. Ia berpura-pura sakit parah. Tabib istana segera dipanggil. Sang tabib mengatakan bahwa ada seseorang yang telah menaruh racun dalam minuman tuan putri. "Orang itu tak lain adalah permaisuri Baginda sendiri," kata sang tabib. Baginda menjadi murka mendengar penjelasan tabib istana. Ia segera memerintahkan patihnya untuk membuang permaisuri ke hutan.

Sang patih segera membawa permaisuri yang sedang mengandung itu ke hutan belantara. Tapi, patih yang bijak itu tidak mau membunuhnya. Rupanya sang patih sudah mengetahui niat jahat selir baginda. "Tuan putri tidak perlu khawatir, hamba akan melaporkan kepada Baginda bahwa tuan putri sudah hamba bunuh," kata patih. Untuk mengelabui raja, sang patih melumuri pedangnya dengan darah kelinci yang ditangkapnya. Raja menganggung puas ketika sang patih melapor kalau ia sudah membunuh permaisuri.

Setelah beberapa bulan berada di hutan, lahirlah anak sang permaisuri. Bayi itu diberinya nama Cindelaras. Cindelaras tumbuh menjadi seorang anak yang cerdas dan tampan. Sejak kecil ia sudah berteman dengan binatang penghuni hutan. Suatu hari, ketika sedang asyik bermain, seekor rajawali menjatuhkan sebutir telur. "Hmm, rajawali itu baik sekali. Ia sengaja memberikan telur itu kepadaku." Setelah 3 minggu, telur itu menetas. Cindelaras memelihara anak ayamnya dengan rajin. Anak ayam itu tumbuh menjadi seekor ayam jantan yang bagus dan kuat. Tapi ada satu keanehan. Bunyi kokok ayam jantan itu sungguh menakjubkan! "Kukuruyuk... Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra..."

Cindelaras sangat takjub mendengar kokok ayamnya dan segera memperlihatkan pada ibunya. Lalu, ibu Cindelaras menceritakan asal usul mengapa mereka sampai berada di hutan. Mendengar cerita ibundanya, Cindelaras bertekad untuk ke istana dan membeberkan kejahatan selir baginda. Setelah di ijinkan ibundanya, Cindelaras pergi ke istana ditemani oleh ayam jantannya. Ketika dalam perjalanan ada beberapa orang yang sedang menyabung ayam. Cindelaras kemudian dipanggil oleh para penyabung ayam. "Ayo, kalau berani, adulah ayam jantanmu dengan ayamku," tantangnya. "Baiklah," jawab Cindelaras. Ketika diadu, ternyata ayam jantan Cindelaras bertarung dengan perkasa dan dalam waktu singkat, ia dapat mengalahkan lawannya. Setelah beberapa kali diadu, ayam Cindelaras tidak terkalahkan. Ayamnya benar-benar tangguh.

Berita tentang kehebatan ayam Cindelaras tersebar dengan cepat. Raden Putra pun mendengar berita itu. Kemudian, Raden Putra menyuruh hulubalangnya untuk mengundang Cindelaras. "Hamba menghadap paduka," kata Cindelaras dengan santun. "Anak ini tampan dan cerdas, sepertinya ia bukan keturunan rakyat jelata," pikir baginda. Ayam Cindelaras diadu dengan ayam Raden Putra dengan satu syarat, jika ayam Cindelaras kalah maka ia bersedia kepalanya dipancung, tetapi jika ayamnya menang maka setengah kekayaan Raden Putra menjadi milik Cindelaras.

Dua ekor ayam itu bertarung dengan gagah berani. Tetapi dalam waktu singkat, ayam Cindelaras berhasil menaklukkan ayam sang Raja. Para penonton bersorak sorai mengelu-elukan Cindelaras dan ayamnya. "Baiklah aku mengaku kalah. Aku akan menepati janjiku. Tapi, siapakah kau sebenarnya, anak muda?" Tanya Baginda Raden Putra. Cindelaras segera membungkuk seperti membisikkan sesuatu pada ayamnya. Tidak berapa lama ayamnya segera berbunyi. "Kukuruyuk... Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra...," ayam jantan itu berkokok berulang-ulang. Raden Putra terperanjat mendengar kokok ayam Cindelaras. "Benarkah itu?" Tanya baginda keheranan. "Benar Baginda, nama hamba Cindelaras, ibu hamba adalah permaisuri Baginda."

Bersamaan dengan itu, sang patih segera menghadap dan menceritakan semua peristiwa yang sebenarnya telah terjadi pada permaisuri. "Aku telah melakukan kesalahan," kata Baginda Raden Putra. "Aku akan memberikan hukuman yang setimpal pada selirku," lanjut Baginda dengan murka. Kemudian, selir Raden Putra pun di buang ke hutan. Raden Putra segera memeluk anaknya dan meminta maaf atas kesalahannya Setelah itu, Raden Putra dan hulubalang segera menjemput permaisuri ke hutan.. Akhirnya Raden Putra, permaisuri dan Cindelaras dapat berkumpul kembali. Setelah Raden Putra meninggal dunia, Cindelaras menggantikan kedudukan ayahnya. Ia memerintah negerinya dengan adil dan bijaksana.
READ MORE >>

Tukang Sepatu dan Liliput

myspace layouts images

Dahulu kala, disebuah kota tinggal seorang Kakek dan Nenek pembuat sepatu. Mereka sangat baik hati. Si kakek yang membuat sepatu sedangkan nenek yang menjualnya. Uang yang didapat dari setiap sepatu yang terjual selalu dibelikan makanan yang banyak untuk dibagikan dan disantap oleh orang-orang jompo yang miskin dan anak kecil yang sudah tidak mempunyai orangtua. Karena itu walau sudah membanting tulang, uang mereka selalu habis. Karena uang mereka sudah habis, dengan kulit bahan sepatu yang tersisa, kakek membuat sepatu berwarna merah. Kakek berkata kepada nenek, “Kalau sepatu ini terjual, kita bisa membeli makanan untuk Hari Raya nanti.

Tak lama setelah itu, lewatlah seorang gadis kecil yang tak bersepatu di depan toko mereka. “Kasihan sekali gadis itu ! Ditengah cuaca dingin seperti ini tidak bersepatu”. Akhirnya mereka memberikan sepatu berwarna merah tersebut kepada gadis kecil itu.

“Apa boleh buat, Tuhan pasti akan menolong kita”, kata si kakek. Malam tiba, merekapun tertidur dengan nyenyaknya. Saat itu terjadi kejadian aneh. Dari hutan muncul kurcaci-kurcaci mengangkut kulit sepatu, membawanya ke rumah si kakek kemudian membuatnya menjadi sepasang sepatu yang sangat bagus. Ketika sudah selesai mereka kembali ke hutan.

Keesokan paginya kakek sangat terkejut melihat ada sepasang sepatu yang sangat hebat. Sepatu itu terjual dengan harga mahal. Dengan hasil penjualan sepatu itu mereka menyiapkan makanan dan banyak hadiah untuk dibagikan kepada anak-anak kecil pada Hari Raya. “Ini semua rahmat dari Yang Maha Kuasa”.

Malam berikutnya, terdengar suara-suara diruang kerja kakek. Kakek dan nenek lalu mengintip, dan melihat para kurcaci yang tidak mengenakan pakaian sedang membuat sepatu. “Wow”, pekik si kakek. “Ternyata yang membuatkan sepatu untuk kita adalah para kurcaci itu”. “Mereka pasti kedinginan karena tidak mengenakan pakaian”, lanjut si nenek. “Aku akan membuatkan pakaian untuk mereka sebagai tanda terima kasih”. Kemudian nenek memotongh kain, dan membuatkan baju untuk para kurcaci itu. Sedangkan kakek tidak tinggal diam. Ia pun membuatkan sepatu-sepatu mungil untup para kurcaci. Setelah selesai mereka menjajarkan sepatu dan aju para kurcaci di ruang kerjanya. Mereka juga menata meja makan, menyiapkan makanan dan kue yang lezat di atas meja.
Saat tengah malam, para kurcaci berdatangan. Betapa terkejutnya mereka melihat begitu banyaknya makanan dan hadiah di ruang kerja kakek. “Wow, pakaian yang indah !”. Merek segera mengenakan pakaian dan sepatu yang sengaja telah disiapkan kakek dan nenek. Setelah selesai menyantap makanan, mereka menari-nari dengan riang gembira. Hari-hari berikutnya para kurcaci tidak pernah dating kembali.

Tetapi sejak saat itu, sepatu-sepatu yang dibuat Kakek selalu laris terjual. Sehingga walaupun mereka selalu memberikan makan kepada orang-orang miskin dan anak yatim piatu, uang mereka masih tersisa untuk ditabung. Setelah kejadian itu semua, Kakek dan dan nenek hidup bahagia sampai akhir hayat mereka.
READ MORE >>

Selasa, 08 Februari 2011

DONGENG ANANTHATOYS : PUTRI TIDUR

myspace layout codes
Dahulu kala, ada sepasang Raja dan Ratu yang berbahagia, karena setelah bertahun-tahun lamanya, akhirnya Ratu melahirkan seorang Puteri.
Raja dan Ratu mengundang tujuh peri untuk datang dan memberkati Puteri yang baru saja lahir itu.
Dalam acara megah yang diselenggarakan sebagai penghormatan kepada para peri itu, masing-masing peri memberikan berkat kepada sang Puteri.
Peri pertama mengatakan “Kamu akan menjadi Puteri tercantik di dunia.”Peri kedua mengatakan “Kamu akan menjadi seorang Puteri yang periang.”Peri ketiga mengatakan “Kamu akan selalu mendapatkan banyak kasih sayang.”Peri keempat mengatakan “Kamu akan dapat menari dengan sangat anggun.”Peri kelima mengatakan “Kamu akan dapat bernyanyi dengan sangat merdu.”
Peri keenam mengatakan “Kamu akan sangat pintar memainkan alat musik.”
Tiba2 datang peri tua ke tengah acara itu. Ia sangat marah karena tidak diundang. Semua orang memang sudah lama tidak pernah melihat peri tua itu, dan mengira bahwa ia sudah meninggal atau pergi dari kerajaan itu.
Peri tua yang marah itu mendekati sang Puteri dan mengutuknya “Jarimu akan tertusuk jarum pintal dan kamu akan mati!” dan kemudian peri tua itu pun menghilang.
Semua orang sangat terkejut. Ratu pun mulai menangis.
Peri ketujuh mendekati sang Puteri dan memberikan berkatnya “Aku tidak bisa membatalkan kutukan, tapi aku dapat memberikan berkatku supaya Puteri tidak akan mati karena terkena jarum pintal, melainkan hanya tertidur pulas selama seratus tahun. Setelah seratus tahun, seorang Pangeran tampan akan datang untuk membangunkannya.”
Raja dan Ratu merasa sedikit lega mendengarnya. Mereka lalu mengeluarkan peraturan baru bahwa di kerajaan itu tidak boleh ada alat pintal satu pun. Mereka menyita dan menghancurkan semua alat pintal yang ada di kerajaan itu demi selamatan sang Puteri. Pada suatu hari disaat Puteri berusia 18 tahun, Raja dan Ratu pergi sepanjang hari.
Karena kesepian, sang Puteri berjalan-jalan menjelajahi istana dan sampai di sebuah loteng. Disana ia menjumpai seorang wanita tua yang sedang memintal benang menggunakan alat pintal. Karena belum pernah melihat alat pintal, sang Puteri sangat tertarik dan ingin mencoba.
Wanita tua itu sebenarnya adalah peri tua jahat yang dulu mengutuknya. Saat sang Puteri mencoba alat pintal itu, ia pun dengan sengaja menusukkan jarum pintal ke tangan sang Puteri.
Sang Puteri jatuh tak sadarkan diri dan tertidur karena terkena kutukan. Peri tua jahat tertawa puas dan menghilang dalam kegelapan.
Saat Raja dan Ratu kembali, mereka dan seluruh pegawai kerajaan kebingungan mencari sang Puteri. Saat mereka menemukannya, Raja tersadar bahwa kutukan peri tua jahat telah menjadi kenyataan. Sang Puteri lalu dibawa ke kamarnya dan dibaringkan di tempat tidurnya. Raja lalu mengirimkan kabar mengenai peristiwa itu ke peri ketujuh yang baik hati.
Peri ketujuh yang baik hati lalu bergegas ke istana. Ia memutuskan untuk menidurkan semua orang di kerajaan itu supaya kelak saat kutukan sang Puteri berakhir mereka semua akan bangun bersama-sama.
Dalam waktu singkat pohon-pohon besar dan semak belukar yang lebat dan berduri tumbuh di seluruh wilayah kerajaan, sehingga sangat sulit bagi siapapun untuk menerobosnya. Bahkan puncak-puncak istana pun hanya dapat terlihat ujungnya saja. Karena menjadi sangat tertutup, sang Puteri dan seluruh kerajaan menjadi aman, walaupun mereka semua tertidur.
Setelah masa seratus tahun berakhir, seorang Pangeran tampan yang kebetulan sedang berburu di dekat wilayah kerajaan itu melihat pucuk-pucuk istana itu. Ia sudah banyak mendengar cerita tentang kerajaan itu, antara lain tentang istana yang dianggap berhantu, para penyihir, dan cerita-cerita lain yang sangat menyeramkan yang sebenarnya tidak benar.
Karena penasaran, saat kembali dari berburu sang Pangeran mencari orang tua yang paling bijaksana dan pintar di kerajaan untuk menanyakan tentang kerajaan tetangga yang penuh misteri itu.
Orang tua yang bijaksana itu lalu bercerita bahwa menurut leluhurnya, di dalam istana di kerajaan yang misterius itu terbaring seorang Puteri yang paling cantik di dunia, yang tertidur karena terkena kutukan dari peri tua jahat. Sang Puteri akan terus tidur hingga ada seorang Pangeran yang datang untuk membangunkannya.
Pangeran tampan yang pemberani itu lalu bergegas berangkat menuju kerajaan misterius itu. Ia berniat untuk menyelamatkan sang Puteri. Sang Pangeran berjuang menembus semak belukar dan pepohonan untuk dapat mencapai kedalam wilayah kerajaan yang misterius itu.
Sesampainya disana, ia melihat banyak sekali orang dan hewan peliharaan yang terbaring dimana-mana. Tetapi mereka tidak mati, sepertinya mereka hanya tertidur sangat nyenyak. Pangeran lalu masuk ke dalam istana. Disana ia pun melihat seluruh pegawai kerajaan yang tertidur pulas.
Dongeng Puteri TidurSetelah berjalan-jalan menjelajahi istana itu, sang Pangeran berhasil menemukan sang Puteri di sebuah kamar. Sang Pangeran terpesona oleh kecantikan sang Puteri. Pangeran pun berlutut dan memegang tangan sang Puteri. Saat itulah kutukan berakhir dan sang Puteri membuka matanya. Ia menyambut sang Pangeran yang telah lama ia tunggu dengan bahagia.
Dalam waktu yang bersamaan seluruh penghuni istana dan seluruh kerajaan terbangun. Semak belukar dan pepohonan menghilang. Semua orang kembali mengerjakan urusan mereka masing-masing. Raja dan Ratu juga terbangun dan segera menyambut sang Pangeran dari kerajaan tetangga itu.
Tak lama kemudian, sang Puteri dan sang Pangeran tampan menikah. Mereka lalu hidup berbahagia selamanya.
READ MORE >>

DONGENG ANANTHATOYS : Legenda Naga Erau dan Putri Karang Melenu

cool myspace layouts
Pada zaman dahulu kala di kampung Melanti, Hulu Dusun, berdiamlah sepasang suami istri yakni Petinggi Hulu Dusun dan istrinya yang bernama Babu Jaruma. Usia mereka sudah cukup lanjut dan mereka belum juga mendapatkan keturunan. Mereka selalu memohon kepada Dewata agar dikaruniai seorang anak sebagai penerus keturunannya.

Suatu hari, keadaan alam menjadi sangat buruk. Hujan turun dengan sangat lebat selama tujuh hari tujuh malam. Petir menyambar silih berganti diiringi gemuruh guntur dan tiupan angin yang cukup kencang. Tak seorang pun penduduk Hulu Dusun yang berani keluar rumah, termasuk Petinggi Hulu Dusun dan istrinya.

Pada hari yang ketujuh, persediaan kayu bakar untuk keperluan memasak keluarga ini sudah habis. Untuk keluar rumah mereka tak berani karena cuaca yang sangat buruk. Akhirnya Petinggi memutuskan untuk mengambil salah satu kasau atap rumahnya untuk dijadikan kayu bakar.

Ketika Petinggi Hulu Dusun membelah kayu kasau, alangkah terkejutnya ia ketika melihat seekor ulat kecil sedang melingkar dan memandang kearahnya dengan matanya yang halus, seakan-akan minta dikasihani dan dipelihara. Pada saat ulat itu diambil Petinggi, keajaiban alam pun terjadi. Hujan yang tadinya lebat disertai guntur dan petir selama tujuh hari tujuh malam, seketika itu juga menjadi reda. Hari kembali cerah seperti sedia kala, dan sang surya pun telah menampakkan dirinya dibalik iringan awan putih. Seluruh penduduk Hulu Dusun bersyukur dan gembira atas perubahan cuaca ini.

Ulat kecil tadi dipelihara dengan baik oleh keluarga Petinggi Hulu Dusun. Babu Jaruma sangat rajin merawat dan memberikan makanan berupa daun-daun segar kepada ulat itu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, ulat itu membesar dengan cepat dan ternyata ia adalah seekor naga.

Suatu malam, Petinggi Hulu Dusun bermimpi bertemu seorang putri yang cantik jelita yang merupakan penjelmaan dari naga tersebut.
“Ayah dan bunda tak usah takut dengan ananda.” kata sang putri, “Meskipun ananda sudah besar dan menakutkan orang di desa ini, izinkanlah ananda untuk pergi. Dan buatkanlah sebuah tangga agar dapat meluncur ke bawah.”

Pagi harinya, Petinggi Hulu Dusun menceritakan mimpinya kepada sang istri. Mereka berdua lalu membuatkan sebuah tangga yang terbuat dari bambu. Ketika naga itu bergerak hendak turun, ia berkata dan suaranya persis seperti suara putri yang didengar dalam mimpi Petinggi semalam.
“Bilamana ananda telah turun ke tanah, maka hendaknya ayah dan bunda mengikuti kemana saja ananda merayap. Disamping itu ananda minta agar ayahanda membakar wijen hitam serta taburi tubuh ananda dengan beras kuning. Jika ananda merayap sampai ke sungai dan telah masuk kedalam air, maka iringilah buih yang muncul di permukaan sungai.”

Sang naga pun merayap menuruni tangga itu sampai ke tanah dan selanjutnya menuju ke sungai dengan diiringi oleh Petinggi dan isterinya. Setelah sampai di sungai, berenanglah sang naga berturut-turut 7 kali ke hulu dan 7 kali ke hilir dan kemudian berenang ke Tepian Batu. Di Tepian Batu, sang naga berenang ke kiri 3 kali dan ke kanan 3 kali dan akhirnya ia menyelam.

Di saat sang naga menyelam, timbullah angin topan yang dahsyat, air bergelombang, hujan, guntur dan petir bersahut-sahutan. Perahu yang ditumpangi petinggi pun didayung ke tepian. Kemudian seketika keadaan menjadi tenang kembali, matahari muncul kembali dengan disertai hujan rintik-rintik. Petinggi dan isterinya menjadi heran. Mereka mengamati permukaan sungai Mahakam, mencari-cari dimana sang naga berada.

Tiba-tiba mereka melihat permukaan sungai Mahakam dipenuhi dengan buih. Pelangi menumpukkan warna-warninya ke tempat buih yang meninggi di permukaan air tersebut. Babu Jaruma melihat seperti ada kumala yang bercahaya berkilau-kilauan. Mereka pun mendekati gelembung buih yang bercahaya tadi, dan alangkah terkejutnya mereka ketika melihat di gelembung buih itu terdapat seorang bayi perempuan sedang terbaring didalam sebuah gong. Gong itu kemudian meninggi dan tampaklah naga yang menghilang tadi sedang menjunjung gong tersebut. Semakin gong dan naga tadi meninggi naik ke atas permukaan air, nampaklah oleh mereka binatang aneh sedang menjunjung sang naga dan gong tersebut. Petinggi dan istrinya ketakutan melihat kemunculan binatang aneh yang tak lain adalah Lembu Swana, dengan segera petinggi mendayung perahunya ke tepian batu.

Tak lama kemudian, perlahan-lahan Lembu Swana dan sang naga tenggelam ke dalam sungai, hingga akhirnya yang tertinggal hanyalah gong yang berisi bayi dari khayangan itu. Gong dan bayi itu segera diambil oleh Babu Jaruma dan dibawanya pulang. Petinggi dan istrinya sangat bahagia mendapat karunia berupa seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Bayi itu lalu dipelihara mereka, dan sesuai dengan mimpi yang ditujukan kepada mereka maka bayi itu diberi nama Puteri Karang Melenu. Bayi perempuan inilah kelak akan menjadi istri raja Kutai Kartanegara yang pertama, Aji Batara Agung Dewa Sakti.

Demikianlah mitologi Kutai mengenai asal mula Naga Erau yang menghantarkan Putri Junjung Buih atau Putri Karang Melenu, ibu suri dari raja-raja Kutai Kartanegara.
READ MORE >>

DONGENG ANANTHATOYS : LITTLE MERMAID

cool myspace layouts
Pada suatu malam yang dingin di laut yang berombak, pangeran dan kroni-kroninya berlayar dari kerajaannya ke lautan lepas. Untuk apa? Ya agar nantinya kalau tenggelam diselamatkan putri duyung lah.

“Kapten! Kapten! Angin badai!”
“Cepat turunkan layar! Semuanya bersiap! Para kelasi kencangkan tali kapal! Siapkan kapal penyelamat! Tapi… Tunggu! Aku pangeran hwoe, bukan kapten kapal!”
“Pangeran! Pangeran! Ada ombak besar!”
“Ya benar! Aku pangeran! Jadi… Tunggu dulu… Hwaaaaaa! Apa yang harus kita lakukan?! Aku kan nggak tahu apa-apa soal pelayaran?! Mamaaaaa!!!”
“Jangan panik! Tenang semuanyaaaaa!”
“Ah, baiklah. Siapa kamu?”
“Kami adalah tim penyelamat kapal yang terperangkap badai! Sea Rescue!”
Dan kemudian pangeran dan gerombolannya berhasil diselamatkan. Pelayaran pun menjadi tenang kembali.
… Tapi tidak setenang itu.

“Wahai pangeran dan dedengkotnya, jika kalian ingin selamat, serahkanlah pangeran kalian!”
“Lho? Kenapa? Bukannya kalian Sea Rescue?”
“Hahahaha! Bodoh, kami adalah bajak laut!”
“Tetapi, bukankah kalian telah menyelamatkan kami?!”
“Akan lebih menyenangkan membuat korban merasa aman sebelum mencelakakannya, Hahahaha!”
Rasanya pernah mendengar hal seperti ini…
“Tak akan kubiarkan kalian melukai satupun awak kapalku!”
“Tapi pangeran, yang diinginkan para bajak laut itu kan kamu?”
“Benar, benar, benar.”
“Nah gimana, deal?”
“Benar, bawa saja orang tak berguna itu.”
“Hei, jangan berkata begitu. Kamu siapa?”
“Hmmm, akulah yang bertanggung jawab pada pelayaran ini. Aku kapten kapal!”
“Sejak kapan kapal ini memiliki kapten?”
“Hmmm, para awak menginginkannya, baca kembali baris ke-5.”


Kemudian dengan tidak berdaya pangeran diserahkan ke bajak laut.
“Tunggu dulu, buat apa kita mengambil pangeran? Nggak berguna!”
“Benar juga, buang saja ke laut!”
Pangeran dibuang ke laut.
“Sayang sekali, kalian pikir aku tidak bisa berenang ya?”
Pangeran berenang mendekati kapalnya.
“Kapten! Pangeran ingin balas dendam!”
“Hmmm, Apa!? Tembak!!”
Pangeran kaget karena alpha-photon cannon mengarah padanya.
“Hei, tunggu dulu! Jangaaaaan!”
BLAST! BLAAAAAAM!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!…
Istirahat dulu…
!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Sang pangeran yang terkena alpha-photon cannon terlempar jauh hingga terdampar di tepi pantai. Dia tergeletak tidak berdaya. Kemudian datanglah 3 orang penjaga pantai.
“Hei, lihat itu! Ada orang tergeletak!”
“Benar! Mungkin dia habis tenggelam. Ambilkan tabung oksigen!”
Kemudian ketiga penjaga pantai itu mendekati pangeran.
“Bagaimana? Sudah siap tabung oksigennya?”
“Siap!”
“1… 2… 3…”
TANK! DONK! DANK!
Ketiga penjaga pantai itu memukuli pangeran dengan tabung oksigen.
“Hei! Bagaimana ini! Kita terlihat seperti memukuli orang tidak berdaya ini!”
“Apa? Nonsense! Kita menolong orang ini!”
“Tapi aneh… Mengapa oksigennya belum keluar juga? Padahal tabung ini sudah dipukulkan beberapa kali…”
Dan kemudian penjaga pantai itu terus berusaha menolong pangeran.

Di lain tempat, little mermaid (duyung kecil) sedang bermain-main di permukaan air.
Tunggu dulu, yang benar duyung kecil (little mermaid) atau putri duyung (mermaid princess)?
Ah sudahlah, itu tidak penting.
Kemudian ia (little mermaid – duyung kecil atau mermaid princess – putri duyung, nggak penting ah) mendengar adanya keramaian di tepi pantai. Dia melihat ada seorang orang diganggu beberapa orang. Ia (seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bisa dianggap duyung kecil atau putri duyung – nggak penting) ingin segera menolongnya (nya disini bukan duyung kecil atau putri duyung, melainkan pangeran. Sudahlah hal ini tidak penting).
“Wah, mungkin ini kesempatan! Jika aku menolong orang itu maka aku bisa dibawa ke istana dasar laut! Aku sangat ingin melihat bagaimana istana bawah laut itu!”
Kemudian putri duyung pergi ke istana bawah laut untuk mencari cara menolong orang itu.

Kelihatannya ada yang salah…

Untuk mencapai pantai, ia membutuhkan sesuatu untuk berjalan. Karena ia memiliki sirip ikan, ia tidak bisa berjalan. Kemudian ia memikirkan beberapa hal…
“Bagaimana mungkin aku bisa berjalan ya? Aku kan nggak punya kaki? Apa tanganku kukorbankan untuk dijadikan kaki? Tapi nanti aku jadi nggak bisa memotong kuku kakiku. Apa kepalaku yang kukorbankan? Ah jangan, berbahaya! Nanti aku nggak bisa pakai pita di rambutku…”

Seharusnya ia lebih mementingkan hal lain yang jauh lebih sebelum mengganti kepalanya daripada tidak bisa memakai pita rambut, seperti tidak bisa menggunakan lipstik.
“Ah bagaimana kalau sirip ini kutukar dengan kaki? Itu tidak masalah, aku sudah belajar renang dengan gaya kupu-kupu waktu SD dulu. Baiklah, aku akan segera pergi ke penyihir penukar sirip!”

Duyung kecil (atau putri duyung ya? Tidak penting ah!) bergegas menuju tempat penyihir.
Terlihat rumah penyihir itu, di depan rumahnya ada papan kecil bertuliskan ‘Jasa penggantian sirip Madam Madam Dane, servis cepat, tidak terima pembayaran dengan kartu kredit. Perhatian, jangan sekali-kali berpikir mengganti kepalamu dengan kaki karena nantinya kamu akan kesulitan memakai kacamata.’
“Permisi, apa madam ada dirumah?”
“Hooo, rupanya ada pelanggan. Ada yang bisa aku bantu?”
“Begini, aku ingin menukar siripku dengan kaki.”
“Hmmm, apa kamu yakin? Nanti namamu bukan jadi duyung kecil atau putri duyung lagi…”
“Apa?! Hal sepenting itu?!”
Siapa yang bilang hal itu tidak penting?
“Bagaimana, kamu harus memikirkan akibatnya. Kamu harus memikirkan nama baru!”
Ia (duyung kecil atau putri duyung yang nantinya mau ganti nama) berpikir, mencari nama baru yang pas…
“Apa ya? Apa karena aku menolong sesuatu dari gangguan sesuatu yang lain di tepi pantai namaku jadi Urashima ya? Tidak, aku kan tidak berada di Hinata? Dan Bukannya Hinata menyukai Naruto yang lebih menyukai Sakura? Tunggu dulu, Sakura? Apa nantinya akan terjadi perang?”


Beberapa jam berlalu, kelihatannya ia (masih belum jelas duyung kecil atau putri duyung – harap segera dijelaskan) masih belum menemukan nama yang cocok.
“Duh kelamaan, gimana kalau Ariel?”
“Hah? Ariel? Peter Pan? Hei, aku tidak suka melakukan cross-over!”
Bagi yang belum tahu, cross-over, dimana act untuk suatu peran dimainkan peran lain pada cerita yang berbeda, sangat tabu di dunia dongeng. Dan Peter Pan itu lebih mengarah ke cerita dongeng lain. Tapi bukannya Urashima Taro juga dongeng lain?
“Ini bukan cross-over! Little Mermaid versinya Walt Disney menggunakan nama Ariel!”
“Uh, okelah. Ayo cepat, keburu pangerannya sekarat nih!”
“Tapi ini nggak gratis, kamu harus menukarnya dengan suaramu.”
“Apa? Suaraku!? Aku jadi nggak bisa manggung kan?”
Terlalu banyak cross-over disini.
“Sudahlah, mau apa nggak?”
“Baiklah…”
Kemudian dalam sekejap sirip Ariel bertransformasi dengan matriks simetris berdimensi dua menggunakan metode affine transformation dengan dekomposisi LU yang dikombinasikan dengan Gauss-Seidel menjadi kaki (mengapa akhir-akhir ini banyak sekali hal absurd seperti ini?).
“!”
“?”
“!!!”
“#$%^&*\-?=|”
“Sudah kubilang suaramu hilang.”
“!!!”
“Hahahaha, meskipun suaramu nggak hilang, kata-kata itu akan difilter di BBS.”
“!”
“Apa? BBS menggunakan versi lama karena filteringnya dianggap produk gagal? Hmmm… Kalau gitu difiltering manual saja.”


Dengan sedikit menyesal, Ariel kembali ke permukaan. Tetapi, sayang sekali pangeran sudah nggak ada di pantai. Ariel terlihat sangat jengkel.
“?! !!!”
Duh, jaga-jaga kalau pakai BBS lama, kata-kata tadi sudah difilter (secara manual) oleh editor kami.
Ariel sangat sedih dan kecewa (selain marah tentunya). Karena itu Ariel menenggelamkan diri ke dasar laut dan menjadi buih. Dia berdoa semoga pangeran selamat dan bahagia (kalau mau berdoa yang jelek-jelek dan mencela takutnya difilter lagi).

Fin…

Lho, kok nggak happy ending?
Mengecewakan…
Sudah ceritanya jelek, nggak happy ending lagi.
Dasar pengarang nggak becus!

Ah maaf…
Akan dibuat versi lanjutan (secara paksa) dari kisah Ariel si duyung kecil atau putri duyung.

Buih-buih Ariel tersebar dan menyatu dengan lautan, diiringi dengan musik orkestra dan
ikan-ikan yang barenangan, saat itu pemandangan laut sangat menyedihkan hati.
“Benar-benar sedih, aku sampai menangis…” Kata Ariel meratapi kepergiannya.

Kepergiannya?
“Ah, aku masih ada! Aku belum menjadi buih!”
Ternyata buih-buih tadi adalah air liur Ariel.
Tetapi, bukannya suara Ariel hilang?
Ya benar, tadi Ariel nggak bicara, dia menulis sms ke penulis.


Cerita belum selesai, Ariel pergi ke daratan untuk mencari pangeran. Tetapi betapa kagetnya ia, ia melihat ada selebaran yang ditemukannya di tempat sampah yang bertuliskan “Pernikahan Pangeran! Yang tidak diundang dilarang datang! Selebaran ini merupakan undangannya…”
Menurut desas-desus, pangeran menikah dengan putri negara tetangga karena nyawanya telah diselamatkan.
“Benar sekali.” Begitulah kata desas-desus.
“Ini tidak boleh terjadi! Yang menyelamatkan pangeran adalah aku!”

“Eh nggak sih, tapi aku kan sudah niat.”
Dan putri duyung segera menuju tempat pernikahan pangeran, di depan rumah kontrakannya.

Pangeran dan putri negara tetangga sudah berpegangan tangan dan akan mengucapkan sumpah serapah, eh setia di hadapan penghulu, tetapi tiba-tiba…
“Tetetetet tetet tet tetet!!!!!”
“Pangeran!!! Suara apa itu!!!”
“Suara itu… Suara itu… Tidak!!! Jangan suara itu!!!”
Seluruh tamu undangan gempar karena mengengar suara misterius itu, meskipun mereka nggak tahu suara apa itu. Ternyata suara itu menandakan adanya kejadian besar yang datangnya tidak pasti, yaitu SMS yang masuk di HP pangeran. Para cendekiawan dan penasehat kerajaan menyebut suara misterius itu sebagai ‘ringtone’.

Ketika pangeran membaca SMS dari HPnya, ia menemukan SMS dari putri duyung.
“Hentikan pernikahan ini! Pangeran, akulah sebenarnya yang harus menikahimu!”
Pangeran melihat ke kanannya dan ia melihat sesosok gadis yang berlari menuju arahnya.
“Kamukah penyelamatku yang sebenarnya?”
“…”
“Jawablah…”
“…”
“Oh aku tahu, kamu pasti terlalu malu untuk mengatakannya kan? Baiklah, kamu akan menjadi
pengantinku.”
“!!!”
Kemudian pangeran dan putri duyung menikah. Sebenarnya putri duyung hanya ingin mengatakan kalau dia mencintai pangeran. Tapi kalau sudah terlanjur gini ya nggak papalah…

Pernikahan telah selesai dan tamu undangan pulang ke rumah masing-masing.
Keluarga kerajaan beserta pengantin juga kembali ke asalnya.
Di bawah terop berwarna hijau daun dan angin bertiup sepoi-sepoi dan diiringi musik orkestra (biar dramatis), tinggallah putri negara tetangga seorang diri. Ia menangis tetapi tetap terdiam berdiri di sana.
“Pangeran, padahal yang menyelamatkanmu benar-benar aku. Aku bahkan hampir kehilangan nyawaku karena melindungimu (sebenarnya kejadiannya gimana?). Tetapi, aku akan selalu berdoa agar kalian hidup bahagia selamanya…”

Putri negara tetangga berjalan menuju pantai sampai ke tengah laut. Ia tenggelam dan tubuhnya berubah menjadi buih secara perlahan. Dan sebelum tubuhnya seluruhnya hilang, ia sempat mengatakan “Aku akan selalu mencintaimu, pangeran.”
READ MORE >>

DONGENG ANANTHATOYS : ALADIN DAN LAMPU AJAIB

myspace backgrounds images
Dahulu kala, di kota Persia, seorang Ibu tinggal dengan anak laki-lakinya yang bernama Aladin. Suatu hari datanglah seorang laki-laki mendekati Aladin yang sedang bermain. Kemudian laki-laki itu mengakui Aladin sebagai keponakannya. Laki-laki itu mengajak Aladin pergi ke luar kota dengan seizin ibu Aladin untuk membantunya. Jalan yang ditempuh sangat jauh. Aladin mengeluh kecapaian kepada pamannya tetapi ia malah dibentak dan disuruh untuk mencari kayu bakar, kalau tidak mau Aladin akan dibunuhnya. Aladin akhirnya sadar bahwa laki-laki itu bukan pamannya melainkan seorang penyihir. Laki-laki penyihir itu kemudian menyalakan api dengan kayu bakar dan mulai mengucapkan mantera. "Kraak…" tiba-tiba tanah menjadi berlubang seperti gua.
Dalam lubang gua itu terdapat tangga sampai ke dasarnya. "Ayo turun! Ambilkan aku lampu antik di dasar gua itu", seru si penyihir. "Tidak, aku takut turun ke sana", jawab Aladin. Penyihir itu kemudian mengeluarkan sebuah cincin dan memberikannya kepada Aladin. "Ini adalah cincin ajaib, cincin ini akan melindungimu", kata si penyihir. Akhirnya Aladin menuruni tangga itu dengan perasaan takut. Setelah sampai di dasar ia menemukan pohon-pohon berbuah permata. Setelah buah permata dan lampu yang ada di situ dibawanya, ia segera menaiki tangga kembali. Tetapi, pintu lubang sudah tertutup sebagian. "Cepat berikan lampunya !", seru penyihir. "Tidak ! Lampu ini akan kuberikan setelah aku keluar", jawab Aladin. Setelah berdebat, si penyihir menjadi tidak sabar dan akhirnya "Brak!" pintu lubang ditutup oleh si penyihir lalu meninggalkan Aladin terkurung di dalam lubang bawah tanah. Aladin menjadi sedih, dan duduk termenung. "Aku lapar, Aku ingin bertemu ibu, Tuhan, tolonglah aku !", ucap Aladin.
Aladin merapatkan kedua tangannya dan mengusap jari-jarinya. Tiba-tiba, sekelilingnya menjadi merah dan asap membumbung. Bersamaan dengan itu muncul seorang raksasa. Aladin sangat ketakutan. "Maafkan saya, karena telah mengagetkan Tuan", saya adalah peri cincin kata raksasa itu. "Oh, kalau begitu bawalah aku pulang kerumah." "Baik Tuan, naiklah kepunggungku, kita akan segera pergi dari sini", ujar peri cincin. Dalam waktu singkat, Aladin sudah sampai di depan rumahnya. "Kalau tuan memerlukan saya panggillah dengan menggosok cincin Tuan."
Aladin menceritakan semua hal yang di alaminya kepada ibunya. "Mengapa penyihir itu menginginkan lampu kotor ini ya ?", kata Ibu sambil menggosok membersihkan lampu itu. "Syut !" Tiba-tiba asap membumbung dan muncul seorang raksasa peri lampu. "Sebutkanlah perintah Nyonya", kata si peri lampu. Aladin yang sudah pernah mengalami hal seperti ini memberi perintah,"kami lapar, tolong siapkan makanan untuk kami". Dalam waktu singkat peri Lampu membawa makanan yang lezat-lezat kemudian menyuguhkannya. "Jika ada yang diinginkan lagi, panggil saja saya dengan menggosok lampu itu", kata si peri lampu.
Demikian hari, bulan, tahunpun berganti, Aladin hidup bahagia dengan ibunya. Aladin sekarang sudah menjadi seorang pemuda. Suatu hari lewat seorang Putri Raja di depan rumahnya. Ia sangat terpesona dan merasa jatuh cinta kepada Putri Cantik itu. Aladin lalu menceritakan keinginannya kepada ibunya untuk memperistri putri raja. "Tenang Aladin, Ibu akan mengusahakannya". Ibu pergi ke istana raja dengan membawa permata-permata kepunyaan Aladin. "Baginda, ini adalah hadiah untuk Baginda dari anak laki-lakiku." Raja amat senang. "Wah..., anakmu pasti seorang pangeran yang tampan, besok aku akan datang ke Istana kalian dengan membawa serta putriku".
Setelah tiba di rumah Ibu segera menggosok lampu dan meminta peri lampu untuk membawakan sebuah istana. Aladin dan ibunya menunggu di atas bukit. Tak lama kemudian peri lampu datang dengan Istana megah di punggungnya. "Tuan, ini Istananya". Esok hari sang Raja dan putrinya datang berkunjung ke Istana Aladin yang sangat megah. "Maukah engkau menjadikan anakku sebagai istrimu ?", Tanya sang Raja. Aladin sangat gembira mendengarnya. Lalu mereka berdua melaksanakan pesta pernikahan.
Nun jauh disana, si penyihir ternyata melihat semua kejadian itu melalui bola kristalnya. Ia lalu pergi ke tempat Aladin dan pura-pura menjadi seorang penjual lampu di depan Istana Aladin. Ia berteriak-teriak, "tukarkan lampu lama anda dengan lampu baru !". Sang permaisuri yang melihat lampu ajaib Aladin yang usang segera keluar dan menukarkannya dengan lampu baru. Segera si penyihir menggosok lampu itu dan memerintahkan peri lampu memboyong istana beserta isinya dan istri Aladin ke rumahnya.
Ketika Aladin pulang dari berkeliling, ia sangat terkejut. Lalu memanggil peri cincin dan bertanya kepadanya apa yang telah terjadi. "Kalau begitu tolong kembalikan lagi semuanya kepadaku", seru Aladin. "Maaf Tuan, tenaga saya tidaklah sebesar peri lampu," ujar peri cincin. "Baik kalau begitu aku yang akan mengambilnya. Tolong Antarkan kau kesana", seru Aladin. Sesampainya di Istana, Aladin menyelinap masuk mencari kamar tempat sang Putri dikurung. "Penyihir itu sedang tidur karena kebanyakan minum bir", ujar sang Putri. "Baik, jangan kuatir aku akan mengambil kembali lampu ajaib itu, kita nanti akan menang", jawab Aladin.
Aladin mengendap mendekati penyihir yang sedang tidur. Ternyata lampu ajaib menyembul dari kantungnya. Aladin kemudian mengambilnya dan segera menggosoknya. "Singkirkan penjahat ini", seru Aladin kepada peri lampu. Penyihir terbangun, lalu menyerang Aladin. Tetapi peri lampu langsung membanting penyihir itu hingga tewas. "Terima kasih peri lampu, bawalah kami dan Istana ini kembali ke Persia". Sesampainya di Persia Aladin hidup bahagia. Ia mempergunakan sihir dari peri lampu untuk membantu orang-orang miskin dan kesusahan.
(SELESAI)
READ MORE >>

DONGENG ANANTHATOYS : CINDERELLA

myspace layout codes
Di sebuah kerajaan, ada seorang anak perempuan yang cantik dan baik hati. Ia tinggal bersama ibu dan kedua kakak tirinya, karena orangtuanya sudah meninggal dunia. Di rumah tersebut ia selalu disuruh mengerjakan seluruh perkerjaan rumah. Ia selalu dibentak dan hanya diberi makan satu kali sehari oleh ibu tirinya. Kakak-kakaknya yang jahat memanggilnya "Cinderela". Cinderela artinya gadis yang kotor dan penuh dengan debu. "Nama yang cocok buatmu !" kata mereka.
Setelah beberapa lama, pada suatu hari datang pengawal kerajaan yang menyebarkan surat undangan pesta dari Istana. "Asyik… kita akan pergi dan berdandan secantik-cantiknya. Kalau aku jadi putri raja, ibu pasti akan gembira", kata mereka. Hari yang dinanti tiba, kedua kakak tiri Cinderela mulai berdandan dengan gembira. Cinderela sangat sedih sebab ia tidak diperbolehkan ikut oleh kedua kakaknya ke pesta di Istana. "Baju pun kau tak punya, apa mau pergi ke pesta dengan baju sepert itu?", kata kakak Cinderela.
Setelah semua berangkat ke pesta, Cinderela kembali ke kamarnya. Ia menangis sekeras-kerasnya karena hatinya sangat kesal. "Aku tidak bisa pergi ke istana dengan baju kotor seperti ini, tapi aku ingin pergi.." Tidak berapa lama terdengar sebuah suara. "Cinderela, berhentilah menangis." Ketika Cinderela berbalik, ia melihat seorang peri. Peri tersenyum dengan ramah. "Cinderela bawalah empat ekor tikus dan dua ekor kadal." Setelah semuanya dikumpulkan Cinderela, peri membawa tikus dan kadal tersebut ke kebun labu di halaman belakang. "Sim salabim!" sambil menebar sihirnya, terjadilah suatu keajaiban. Tikus-tikus berubah menjadi empat ekor kuda, serta kadal-kadal berubah menjadi dua orang sais. Yang terakhir, Cinderela berubah menjadi Putri yang cantik, dengan memakai gaun yang sangat indah.
Karena gembiranya, Cinderela mulai menari berputar-putar dengan sepatu kacanya seperti kupu-kupu. Peri berkata,"Cinderela, pengaruh sihir ini akan lenyap setelah lonceng pukul dua belas malam berhenti. Karena itu, pulanglah sebelum lewat tengah malam. "Ya Nek. Terimakasih," jawab Cinderela. Kereta kuda emas segera berangkat membawa Cinderela menuju istana. Setelah tiba di istana, ia langsung masuk ke aula istana. Begitu masuk, pandangan semua yang hadir tertuju pada Cinderela. Mereka sangat kagum dengan kecantikan Cinderela. "Cantiknya putrid itu! Putri dari negara mana ya ?" Tanya mereka. Akhirnya sang Pangeran datang menghampiri Cinderela. "Putri yang cantik, maukah Anda menari dengan saya ?" katanya. "Ya…," kata Cinderela sambil mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Mereka menari berdua dalam irama yang pelan. Ibu dan kedua kakak Cinderela yang berada di situ tidak menyangka kalau putrid yang cantik itu adalah Cinderela.
Pangeran terus berdansa dengan Cinderela. "Orang seperti andalah yang saya idamkan selama ini," kata sang Pangeran. Karena bahagianya, Cinderela lupa akan waktu. Jam mulai berdentang 12 kali. "Maaf Pangeran saya harus segera pulang..,". Cinderela menarik tangannya dari genggaman pangeran dan segera berlari ke luar Istana. Di tengah jalan, sepatunya terlepas sebelah, tapi Cinderela tidak memperdulikannya, ia terus berlari. Pangeran mengejar Cinderela, tetapi ia kehilangan jejak Cinderela. Di tengah anak tangga, ada sebuah sepatu kaca kepunyaan Cinderela. Pangeran mengambil sepatu itu. "Aku akan mencarimu," katanya bertekad dalam hati. Meskipun Cinderela kembali menjadi gadis yang penuh debu, ia amat bahagia karena bisa pergi pesta.
Esok harinya, para pengawal yang dikirim Pangeran datang ke rumah-rumah yang ada anak gadisnya di seluruh pelosok negeri untuk mencocokkan sepatu kaca dengan kaki mereka, tetapi tidak ada yang cocok. Sampai akhirnya para pengawal tiba di rumah Cinderela. "Kami mencari gadis yang kakinya cocok dengan sepatu kaca ini," kata para pengawal. Kedua kakak Cinderela mencoba sepatu tersebut, tapi kaki mereka terlalu besar. Mereka tetap memaksa kakinya dimasukkan ke sepatu kaca sampai lecet. Pada saat itu, pengawal melihat Cinderela. "Hai kamu, cobalah sepatu ini," katanya. Ibu tiri Cinderela menjadi marah," tidak akan cocok dengan anak ini!". Kemudian Cinderela menjulurkan kakinya. Ternyata sepatu tersebut sangat cocok. "Ah! Andalah Putri itu," seru pengawal gembira. "Cinderela, selamat..," Cinderela menoleh ke belakang, peri sudah berdiri di belakangnya. "Mulai sekarang hiduplah berbahagia dengan Pangeran. Sim salabim!.," katanya.
Begitu peri membaca mantranya, Cinderela berubah menjadi seorang Putri yang memakai gaun pengantin. "Pengaruh sihir ini tidak akan hilang walau jam berdentang dua belas kali", kata sang peri. Cinderela diantar oleh tikus-tikus dan burung yang selama ini menjadi temannya. Sesampainya di Istana, Pangeran menyambutnya sambil tersenyum bahagia. Akhirnya Cinderela menikah dengan Pangeran dan hidup berbahagia.
(SELESAI)
READ MORE >>

DONGENG ANANTHATOYS : TIMUN MAS

myspace comments
Mbok Sirni namanya, ia seorang janda yang menginginkan seorang anak agar dapat membantunya bekerja.
Suatu hari ia didatangi oleh raksasa yang ingin memberi seorang anak dengan syarat apabila anak itu berusia enam tahun harus diserahkan keraksasa itu untuk disantap.
Mbok Sirnipun setuju. Raksasa memberinya biji mentimun agar ditanam dan dirawat setelah dua minggu diantara buah ketimun yang ditanamnya ada satu yang paling besar dan berkilau seperti emas.
Kemudian Mbok Sirni membelah buah itu dengan hati-hati. Ternyata isinya seorang bayi cantik yang diberi nama timun emas.
Semakin hari timun emas tumbuh menjadi gadis jelita. Suatu hari datanglah raksasa untuk menagih janji Mbok sirni amat takut kehilangan timun emas, dia mengulur janji agar raksasa datang 2 tahun lagi, karena semakin dewasa,semakin enak untuk disantap, raksasa pun setuju.
Mbok Sirnipun semakin sayang pada timun emas, setiap kali ia teringat akan janinya hatinyapun menjadi cemas dan sedih.
Suatu malam mbok sirni bermimpi, agar anaknya selamat ia harus menemui petapa di Gunung Gundul. Paginya ia langsung pergi. Di Gunung Gundul ia bertemu seorang petapa yang memberinya 4 buah bungkusan kecil, yaitu biji mentimun, jarum, garam,dan terasi sebagai penangkal. Sesampainya dirumah diberikannya 4 bungkusan tadi kepada timun emas, dan disuruhnya timun emas berdoa.
Paginya raksasa datang lagi untuk menagih janji. Timun emaspun disuruh keluar lewat pintu belakang untuk Mbok sirni.
Raksasapun mengejarnya. Timun emaspun teringat akan bungkusannya, maka ditebarnya biji mentimun.
Sungguh ajaib, hutan menjadi ladang mentimun yang lebat buahnya. Raksasapun memakannya tapi buah timun itu malah menambah tenaga raksasa.
Lalu timun emas menaburkan jarum, dalam sekejap tumbuhlan pohon-pohon banbu yang sangat tinggi dan tajam.
Dengan kaki yang berdarah-darah raksasa terus mengejar. Timun emaspun membuka bingkisan garam dan ditaburkannya.
Seketika hutanpun menjadi lautan luas. Dengan kesakitannya raksasa dapat melewati.
Yang terakhit Timun Emas akhirnya menaburkan terasi, seketika terbentuklah lautan lumpur yang mendidih, akhirnya raksasapun mati.
" Terimakasih Tuhan, Engkau telah melindungi hambamu ini " Timun Emas mengucap syukur. Akhirnya Timun Emas dan Mbok Sirni hidup bahagia dan damai.
(SELESAI)
READ MORE >>

PANGERAN KATAK

myspace layouts
By Brothers Grimm
Pada jaman dahulu kala, ketika saat itu dengan mengharapkan sesuatu, hal itu dapat terwujud, ada seorang Raja yang mempunyai putri-putri yang sangat cantik jelita, dan putrinya yang termuda begitu cantiknya sehingga matahari sendiri yang melihat kecantikan putri termuda itu menjadi ragu-ragu untuk bersinar. Di dekat istana tersebut terletak hutan kayu yang gelap dan rimbun, dan di hutan tersebut, di bawah sebuah pohon tua yang mempunyai daun-daun berbentuk hati, terletak sebuah sumur; dan ketika cuaca panas, putri Raja yang termuda sering ke hutan tersebut untuk duduk di tepi sumur yang dingin, dan jika waktu terasa panjang dan membosankan, dia akan mengeluarkan bola yang terbuat dari emas, melemparkannya ke atas dan menangkapnya kembali, hal ini menjadi hiburan putri raja untuk melewatkan waktu.
Suatu ketika, bola emas itu dimainkan dan dilempar-lemparkan keatas, bola emas itu tergelincir dari tangan putri Raja dan terjatuh di tanah dekat sumur lalu terguling masuk ke dalam sumur tersebut. Mata putri raja hanya bisa memandangi bola tersebut meluncur kedalam sumur yang dalam, begitu dalamnya hingga dasar sumur tidak kelihatan lagi. Putri raja tersebut mulai menangis, dan terus menangis seolah-olah tidak ada hyang bisa menghiburnya lagi. Di tengah-tengah tangisannya dia mendengarkan satu suara yang berkata kepadanya,
"Apa yang membuat kamu begitu sedih, sang Putri? air matamu dapat melelehkan hati yang terbuat dari batu."
Dan ketika putri raja tersebut melihat darimana sumber suara tersebut berasal, tidak ada seseorangpun yang kelihatan, hanya seekor kodok yang menjulurkan kepala besarnya yang jelek keluar dari air.
"Oh, kamukah yang berbicara?" kata sang putri; "Saya menangis karena bola emas saya tergelincir dan jatuh kedalam sumur."
"Jangan kuatir, jangan menangis," jawab sang kodok, "Saya bisa menolong kamu; tetapi apa yang bisa kamu berikan kepada saya apabila saya dapat mengambil bola emas tersebut?"
"Apapun yang kamu inginkan," katanya; "pakaian, mutiara dan perhiasan manapun yang kamu mau, ataupun mahkota emas yang saya pakai ini."
"Pakaian, mutiara, perhiasan dan mahkota emas mu bukanlah untuk saya," jawab sang kodok; "Bila saja kamu menyukaiku, dan menganggap saya sebagai teman bermain, dan membiarkan saya duduk di mejamu, dan makan dari piringmu, dan minum dari gelasmu, dan tidur di ranjangmu, - jika kamu berjanji akan melakukan semua ini, saya akan menyelam ke bawah sumur dan mengambilkan bola emas tersebut untuk kamu."
"Ya tentu," jawab sang putri raja; "Saya berjanji akan melakukan semua yang kamu minta jika kamu mau mengambilkan bola emas ku."
Tetapi putri raja tersebut berpikir,  "Omong kosong apa yang dikatakan oleh kodok ini! seolah-olah sang kodok ini bisa melakukan apa yang dimintanya selain berkoak-koak dengan kodok lain, bagaimana dia bisa menjadi pendamping seseorang."
Tetapi kodok tersebut, begitu mendengar sang putri mengucapkan janjinya, menarik kepalanya masuk kembali ke dalam ari dan mulai menyelam turu, setelah beberapa saat dia kembali kepermukaan dengan bola emas pada mulutnya dan melemparkannya ke atas rumput.
Putri raja menjadi sangat senang melihat mainannya kembali, dan dia mengambilnya dengan cepat dan lari menjauh.
"Berhenti, berhenti!" teriak sang kodok; "bawalah aku pergi juga, saya tidak dapat lari secepat kamu!"
Tetapi hal itu tidak berguna karena sang putri itu tidak mau mendengarkannya dan mempercepat larinya pulang ke rumah, dan dengan cepat melupakan kejadian dengan sang kodok, yang masuk kembali ke dalam sumur.
Hari berikutnya, ketika putri Raja sedang duduk di meja makan dan makan bersama Raja dan menteri-menterinya di piring emasnya, terdengar suara sesuatu yang meloncat-loncat di tangga, dan kemudian terdengar suara ketukan di pintu dan sebuah suara yang berkata "Putri raja yang termuda, biarkanlah saya masuk!"
Putri Raja yang termuda itu kemudian berjalan ke pintu dan membuka pintu tersebut, ketika dia melihat seekor kodok yang duduk di luar, dia menutup pintu tersebut kembali dengan cepat dan tergesa-gesa duduk kembali di kursinya dengan perasaan gelisah. Raja yang menyadari perubahan tersebut berkata,
"Anakku, apa yang kamu takutkan? apakah ada raksasa berdiri di luar pintu dan siap untuk membawa kamu pergi?"
"Oh.. tidak," jawabnya; "tidak ada raksasa, hanya kodok jelek."
"Dan apa yang kodok itu minta?" tanya sang Raja.
"Oh papa," jawabnya, "ketika saya sedang duduk di sumur kemarin dan bermain dengan bola emas, bola tersebut tergelincir jatuh ke dalam sumur, dan ketika saya menangis karena kehilangan bola emas itu, seekor kodok datang dan berjanji untuk mengambilkan bola tersebut dengan syarat bahwa saya akan membiarkannya menemaniku, tetapi saya berpikir bahwa dia tidak mungkin meninggalkan air dan mendatangiku; sekarang dia berada di luar pintu, dan ingin datang kepadaku."
Dan kemudian mereka semua mendengar kembali ketukan kedua di pintu dan berkata,
"Putri Raja yang termuda, bukalah pintu untuk saya!, Apa yang pernah kamu janjikan kepadaku? Putri Raja yang termuda, bukalah pintu untukku!"
"Apa yang pernah kamu janjikan harus kamu penuhi," kata sang Raja; "sekarang biarkanlah dia masuk."
Ketika dia membuka pintu, kodok tersebut melompat masuk, mengikutinya terus hingga putri tersebut duduk kembali di kursinya. Kemudian dia berhenti dan memohon, "Angkatlah saya supaya saya bisa duduk denganmu."
Tetapi putri Raja tidak memperdulikan kodok tersebut sampai sang Raja memerintahkannya kembali. Ketika sang kodok sudah duduk di kursi, dia meminta agar dia dinaikkan di atas meja, dan disana dia berkata lagi,
"Sekarang bisakah kamu menarik piring makanmu lebih dekat, agar kita bisa makan bersama."
Dan putri Raja tersebut melakukan apa yang diminta oleh sang kodok, tetapi semua dapat melihat bahwa putri tersebut hanya terpaksa melakukannya.
"Saya merasa cukup sekarang," kata sang kodok pada akhirnya, "dan saya merasa sangat lelah, kamu harus membawa saya ke kamarmu, saya akan tidur di ranjangmu."
Kemudian putri Raja tersebut mulai menangis membayangkan kodok yang dingin tersebut tidur di tempat tidurnya yang bersih. Sekarang sang Raja dengan marah berkata kepada putrinya,
"Kamu adalah putri Raja dan apa yang kamu janjikan harus kamu penuhi."
Sekarang putri Raja mengangkat kodok tersebut dengan tangannya, membawanya ke kamarnya di lantai atas dan menaruhnya di sudut kamar, dan ketika sang putri mulai berbaring untuk tidur, kodok tersebut datang dan berkata, "Saya sekarang lelah dan ingin tidur seperti kamu, angkatlah saya keatas ranjangmu, atau saya akan melaporkannya kepada ayahmu."
Putri raja tersebut menjadi sangat marah, mengangkat kodok tersebut keatas dan melemparkannya ke dinding sambil menangis,
"Diamlah kamu kodok jelek!"
Tetapi ketika kodok tersebut jatuh ke lantai, dia berubah dari kodok menjadi seseorang pangeran yang sangat tampan. Saat itu juga pangeran tersebut menceritakan semua kejadian yang dialami, bagaimana seorang penyihir telah membuat kutukan kepada pangeran tersebut, dan tidak ada yang bisa melepaskan kutukan tersebut kecuali sang putri yang telah di takdirkan untuk bersama-sama memerintah di kerajaannya.
Dengan persetujuan Raja, mereka berdua dinikahkan dan saat itu datanglah sebuah kereta kencana yang ditarik oleh delapan ekor kuda dan diiringi oleh Henry pelayan setia sang Pangeran untuk membawa sang Putri dan sang Pangeran ke kerajaannya sendiri. Ketika kereta tersebut mulai berjalan membawa keduanya, sang Pangeran mendengarkan suara seperti ada yang patah di belakang kereta. Saat itu sang Pangeran langsung berkata kepada Henry pelayan setia, "Henry, roda kereta mungkin patah!", tetapi Henry menjawab, "Roda kereta tidak patah, hanya ikatan rantai yang mengikat hatiku yang patah, akhirnya saya bisa terbebas dari ikatan ini".
Ternyata Henry pelayan setia telah mengikat hatinya dengan rantai saat sang Pangeran dikutuk menjadi kodok agar dapat ikut merasakan penderitaan yang dialami oleh sang Pangeran, dan sekarang rantai tersebut telah terputus karena hatinya sangat berbahagia melihat sang Pangeran terbebas dari kutukan.
(SELESAI)
READ MORE >>
Aku tahu, saat pertama kali kita bertemu, itulah waktuku untuk mendapatkan berkat. Setiap waktu bersamamu adalah suatu karunia. Aku menghargai cintamu, kebaikanmu, dan persahabatanmu. Engkau adalah cinta dalam hidupku. Thanks God untuk Anas..."Semoga anak-anak lelaki kita seperti tanam-tanaman yang tumbuh menjadi besar pada waktu mudanya; dan anak-anak perempuan kita seperti tiang-tiang penjuru, yang dipahat untuk bangunan istana!" Mazmur 144:12

CLICK HERE

Ananthatoys Indonesia
  • CALL NOW : DIDIK ANANTHA
  • 081226656594
  • Or send instant messege with: Didik Anantha
  • Email : dupacenter@yahoo.co.id
  • click http://www.ananthatoys.co.cc
  • Account : Didik Anantha
  • BCA Cimanggis a/c 1662267818
  • Address : Jl. Sain Saji No. 73 Kp. Rumbut, Depok

  • chat with Didik Anantha
    free counters

    Followers

     

    Copyright © 2009 by ALAT PERAGA TK Powered By Blogger Design by ET